Friday, 19 May 2017

Jasa dan Peninggalan Khalifah Abdul Malik bin Marwan

Jasa dan Peninggalan Khalifah Abdul Malik bin Marwan
gambar ilustrasi

Selama masa pemerintahannya, khalifah Abdul Malik bin Marwan melakukan beberaoa upaya pembaharuan untuk memperlancar administrasi pemerintahan. Di antaranya :
1. Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara
Kebijakan ini dikeluarkan karena bahasa yang dipakai untuk kegiatan adminstrasi pemerintahan di daerah taklukan pada masa-masa sebelumnya, buka bahasa Arab. Seperti diketahui bahwa pada masa nabi dan para sahabat dan masa-masa awal dinasti Ban Umaiyah, seluruh dokumen yang berkaitan dengan perikehidupan dicatat dalam bahasa Arab.
2. Penggantian mata uang
Abdul Malik bin Marwan mengeluarkan mata uang logam Arab. Sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad SAW. dan khalifah Abu Bakar, mata uang yang dipakai sebagai alat tukar atau alat bayar mata uang Romawi dan Persia. Mata uang ini pada masa pemerintahan sesudahnya, khususnya pada masa khalifah Umar bin Khattab telah banyak yang rusak.
3. Pembaharuan ragam tulisan bahasa Arab
Kebijakan khalifah Abdul Malik bin Marwan lainnya adalah pembaharuan dalam raham tulisan bahasa Arab. Hal ini dilakukan karena berdasarkan penilaiannya terdapat dua kelemahan di dalam bahasa Arab. Pertama, bahasa Arab hanya mengandung huruf konsonan (huruf mati), yang dapat diucapkan dalam beberapa bunyi vokal. Kenyataan in menyulitkan bagi masyarakat muslim yang bukan berasal dari bangsa Arab di dalam memahami dan mengucapkan bahasa Arab.
Kelemahan kedua adalah bahwa beberapa huruf Arab mempunyai kesamaan bentuk, seperti huruf dal dan dzal, shad dan dhad, sin dan syin, dll. Hajjaj bin Yusuf salah seorang gubernur Abdul Malik bin Marwan yang dalam seni menulis bahasa Arab, memperkenalkan tanda vokal dan menerapkan tanda-tanda titik untuk membedakan beberapa huruf yang sama bentuknya.

4. Pembaharuan dalam bidang perpajakan
Hingga pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, umat Islam hanya berkewajiban membayar zakat dan bebas dari pajak lainnya. Hal ini mendorong orang non-muslim memeluk agama Islam. dengan cara ini, mereka terbebas dari pembayaran pajak. Setelah itu, mereka meninggalkan tanah pertaniannya guna mencari nafkah di kota-kota besar sebagai tentara.
Kenyataan ini menimbulkan masalah bagi perekonomian negara. Karena pada satu siis, perpindahan agama mengakibatkan berkurangnya sumber pendapatan negara dari sektor pajak. Pada sisi lain, bertambahnua militer Islam dari kelompok Mawali memerlukan dana subsidi yang semakin besar.
Untuk mengatasi permasalahan ini, khalifah Abdul Malik bin Marwan mengembalikan beberapa militer Islam kepada profesinya semula, yakni sebagai petani, menetapkan kepadanya untuk membayar pajak sebagaimana kewajiban mereka sebelum mereka masuk Islam, yakni sebesar beban kharraj dan Jizyah.
Keputusan khalifah Abdul Malik bin Marwan ini tentu saja ditentang keras oleh kelompok Mawali. Karena ketidakpuasan ini, pada akhirnya mereka menyokong gerakan propaganda Abbasiyah untuk menggulingkan kekuasaan dinasti bani Umaiyah.
5. Pengembangan sistem pos
Ketika Abdul Malik bin Marwa berkuasa, ia berusaha mengembangkan sistem pos yang telah dibangun pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan. Sistem pos ini menghubungkan kota propinsi dengan pemerintahan pusat. Para petugas pos mengendarai kuda dalam menjalankan tugasnya, khususnya tugas menyampaikan informasi penting dari pemerintahan pusat ke pemerintah propinsi.
6. Membentuk Mahkamah Agung
Kebijakan lain yang menjadi jasa penting dari peninggalan pemerintahan khalifah Abdul Malik adalah mendirikan lemaga Mahkamah Agung. Lembaga ini didirikikan untuk mengadili para pejabat tinggi negara yang melakukan penyelewengan atau tindakan yang merugikan bangsa dan negara atas tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat.
7. Mendirikan bangunan - bangunan penting
Keberhasilan lain yang menjadi jasa dari peninggalan khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah mendirikan bangunan - bangunan penting yang sangat dibutuhkan di dalam memperlancar roda pemerintahan dan kekuatan militer Bani Umaiyah.

Usaha usaha Khalifah Abdul Malik Bin Marwan

Usaha usaha Khalifah Abdul Malik Bin Marwan
gambar ilustrasi

Sepeninggal Khalifah Marwan bin Hakam akibat terbunuh pada tahun 66 H / 685 M, Abdul Malik bin Marwan naik tahta menggantikan kedudukan Ayahnya sebagai khalifah. Pada masa awal pemerintahannya, Abdul Malik mengalami banyak hambatan dalam menjalankan pemerintahan. Karena ketika itu bangsa Arab terpecah menjadi beberapa kelompok dengan fanatisme kesukuan masing-masing. Mereka yang tidak puas atas kebijakan Marwan bin Hakam, melakukan berbagai gerakan pemberontakan, sehingga wilayah kekuasaan Islam dinasti Bani Umaiyah Berada di ujung kehancuran.
Diantara pemberontakan yang terjadi adalah gerakan pemberontakan di Irak yang dilakukan oleh Al-Mukhtar bin Ubayd. Al-Mukhtar menyatakan bahwa pemberontakan itu bertujuan untuk menggoyahkan kekuasaan dinasti bani Umaiyah. Selain itu, gerakannya juga bertujuan untuk menuntut balas atas kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang tewas terbunuh pada masa pemerintahan khalifah Yazid bin Muawiyah.
Al-Mukhtar berhasil mempengaruhi masyarakat Irak yang setia kepada Ali dan anak cucunya. Mereka bersatu untuk melakukan gerakan perlawanan kepada pemerintahan dinasti Bani Umaiyah di bawah pimpinan Abdul Malik bin Marwan. Untuk membangkitkan semangat jihad, meraka melakukan ziarah ke Karbala guna memancing amarah masyarakat tersebut.
Usaha Al-Mukhtar ini ternyata berhasil mempengaruhi masyarakat Kufah, Irakm Syiriah hingga masyarakat Arab lainnya. Di bawah pimpinan Al-Asytar, mereka melakukan penyerangan ke pasukan gubernur Irak, Ubaidillah di suatu tempat bernama Zab. Serangan ini menghasilkan kemenangan di pihak Al-Mukhtar. Kemenangan ini membuat Al-Mukhtar menjadi penguasa di tempat Mesopomatia.
Sementara itu, gerakan Ibnu Zubair yang mengangkat dirinya sebagai khalifah di Mekkah, menolak untuk bergabung dengan Al-Mukhtar. Akibatnya, kedua tokoh ini berseteru dalam sebuah pertempuran di Irak. Dalam pertempuran inim Ibnu Zubair dan komandan pasukannya bernama Mu'ab, berhasil mengalakan pasukan AL-Mukhtar. Dengan demikian, penguasa wilayah Mesopomatia dan sekitarnya kini beralih ke tangan Ibnu Zubair.
Selain kedua pemberotakan tersebut, terapat satu lagi gerakan pemberontakan yang timbul ketika itu, yaitu gerakan kelompok khawarij.Namun gerakan ini dapat dihancurkan oleh Al-Muhallab, komandan pasukan Ibnu Zubair, Gerakan khawarij ini berhasil dikalahkan setelah dikepung lebih kurang selama delapan bulan di Khurasan.
Pada masa awal pemerintahannya, Abdul Malik bin Marwan tidak terlibt langsung di dalam pertempuran musuh-musuh yang saling berebut pengaruh. Ia hanya menjadi penonton saja dan menunggu kelemahan mereka masing - masing, baru kemudian mereka di serang.

Jasa dan Peninggalan Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Jasa dan Peninggalan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
gambar ilustrasi
Meskipun Umar bin Abdul Aziz berkuasa lebih kurang 3 tahun, banyak jasa yang ditinggalkannya. Diantara jasanya dalam pengembangan Islam :
1. Mengirim para muballigh ke berbagai penjuru wilayah Islam.
Langkah ini diambil khalifah Umar bin Abdul Aziz karena ia memandang banyak umat Islam yang belum memahami dengan benar ajaran Islam. Karena itum ia meminta kepada para ulama untuk mengajarkan ajaran Islam kepada penduduk yang baru muslim maupun yang telah menjadi muslim, tapi belum menguasai benar ajara Islam.
2. Meminta para gubernur menyebarkan ajaran Islam (berdakwah).
Salah satu langkah yang diambilnya adalah mengirim sepuluh orang ulama ahli fiqih ke Afrika Utara. Mereka diminta untuk mengajarkan ajaran kepada penduduk bangsa Barbar. Kedatangan mereka disambut oleh gubernur Ismail bin Abdullah. Gubernur ini bersemangat sekali menerima kedatangan mereka. Kesepuluh orang ahli fiih itu bekerja keras untuk memberikan pemahaman yang benar tentang ajaran Islam.
Keinginan khalifah Umar bin Abdul Aziz ini adalah agar seluruh penduduk Afrika Utara, termasuk bangsa Barbar yang suka memberontak, menjadi muslim yang taat, Usaha ini cukup berhasil, karena kemudia bangsa Barbar masuk Islam dan menjadi muslim yang taat.
3. Membukukan hadits.
Jasa yang paling penting yang hingga saat ini selalu diingat banyak orang adalah usahanya melakukan pembukuan hadits. Usaha ini dilakukannya atas dasar pertimangan bahwa banyak ahli Hadits yang gugur dalam berbagai medan pertempuran, selain banyaknya hadits palsu. Bila tidak dibukukan, maka dikhawatirkan hadits akan hilang atau karena banyaknya hadits palsu, sulit untuk menentukan mana yang benar-benar dari rasul dan mana yang bukan.

Usaha - Usaha Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Usaha - Usaha Khalifah Umar bin Abdul Aziz
gambar ilustrasi
1. Menghapuskan kelas-kelas sosial antara muslim Arab dan muslim non Arab
Pada masa awal pemerintahan dinasti Bani Umaiyah, terjadi perbedaan besar di dalam sistem sosial kemasyarakatan. Perbedaan itu ditandai dengan pemberian jabatan-jabatan penting bagi muslim Arab dan posisi kurang menguntungkan bagi masyarakat muslim non Arab (mawali). Hal semacam ini menimbulkan persoalan-persoalan sosial politik. Karena masyarakat non Arab yang dimasukkan kedalam kelompok masyarakat kelas dua melakukan protes. Bahkan banyak pula yang ingin memisahkan diri dari pemerintahan dinasi Bani Umaiyah.
Kalau kenyataan ini dibiarkan terus, maka akan sangat berpengaruh bagi stabilitas dan keamanan dinasti Bani Umaiyah. Oleh karena itu, khalifah Umar bin Abdul Aziz melakukan pembaharuan di dalam bidang sosial dengan menghapuskan perbedaan kelas. Semua masyarakat muslim memiliki hak dan kewajiban yang sama.
2. Mengembalikan uang pensiun anak-anak yatim para pejuang Islam.
Pada masa awal pemerintahan dinasti Bani Umaiyah, banyak uang pensium para pejuang muslim menjadi hak anak-anak yatim yang ditinggalkan para pejuang muslim diambil. Bahkan pada masa pemerintahan khalifah Abdul Malik bin Marwan, hak mereka tidak diberikan sama sekali.
Tindakan semena-mena ini amat berpengaruh bagi citra pemerintahan dinasti Bani Umaiyah. Karena banyak anak-anak pejuang yang merasa tidak puas melakukan pemberontakan dan pemisahan diri. Kenyataan ini kemudian diamati oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Setelah itu, ia mengeluarkan kebijakan untuk mengembalikan semua harta milik mereka. Tindakan khalifah Umar ini mendapat sambutan positif dari semua lapisan masyarakat. Karena itu, masa kepemimpinannya yang singkat membawa harum namanya dan nama Bani Umaiyah.
3. Menghidupkan kerukunan dan toleransi beragama
Pada masa - masa sebelumnya, kehidupan bertoleransi sudah berjalan. Namun sedikit kebijakan yang memihak kepada kelompok non muslim. Salah satunya adlah kasus permintaan masyarakat Kristen Damaskus agar khalifah mengembalikan gereja mereka yang telah dijadikan masjid pada masa khalifah Al-Walid bin Abdul Malik. Permintaan itu dikabulkan okeh khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Selain itu, khalifah Umar bin Abdul Aziz juga memberikan izin kepada masyarakat kristen Damaskus untuk mendirikan gereja-gereja baru di kota Damaskus. Kebijakan ini membuat masyarakat kristen berkembang dan menaruh banyak harapan dari khalifah yang bijaksana tersebut.
4. Menngurangi beban pajak atas penganut Kristen Najran dari 2000 keping menjadi 200 keping.
Kebijakan ini dikeluarkan karena ternyata masyarakat Kristen khususnya Bani Najran merasa berat. Beban mereka dirasakan terlalu berat untuk dipikul, karena kebanyakan mereka bukan orang-orang kaya. Karena itu, mereka menuntut khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk mengurangi beban pajak tersebut dari 2000 keping menjadi 200 keping.
Permintaan kirsten Najran ini dipenuhi khalifah Umar bin Abdul Aziz. Sehingga masyarakat menyukai kepemimpinannya yang dianggap menampung keinginan yang mereka kehendaki.
5. Melarang pembelian tanah non muslim kepada umat Islam
Langkah ini diambil khalifah karena banyak tanah orang Kristen yang sudah menjadi milik orang-orang Islam. Sehingga banyak umat kristen tidak memiliki lahan untuk digarap. Hal ini berakibat pada meningkatnya jumlah petani penggarap yang tidak memiliki lahan sendiri.
6. Mewajibkan pembayaran kharraj kepada umat Islam dan jizyah (pajak jiwa) kepada no muslim.
Kebijakan ini diambil oleh khalifah untuk mengimbangi kewajiban pada negara yang dikenakan kepada semua penduduk. Kalau orang Kristen harus bayar pajak tanah (kharraj) sementara mereka umumnya bukan orang  kaya, maka hal itu dirasakan tidak adil. Orang kristen cukup membayar pajak jiwa saja. Karena mereka telah mendapatkan perlindungan dari penguasa Islam.
Sementara orang-orang Islam, harus membayar pajak tanah, karena sebagian besar mereka adalah orang-orang kaya dan mampu membayar pajak.

Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Biografi Khalifah Umar bin Abdul Aziz
gambar ilustrasi
Umar bin Abdul Aziz dilahirkan pada tahun 63 H di Halwan, dekat Kairo. Ia lahir ketika ayahnya Abdul Aziz menjadi gubernur di Mesir, Berdasarkan garis keturunan, Umar memiliki hubungan darah dengan khalifah Umar bin Al-Khattab. Karena ibunya yang bernama Ummu 'Ashim binti 'Ashim bin Umar bin Al-Khattab. Salah satu ciri fisik yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz adalah tanda bekas luka pada bagian dahi. Luka itu terjadi karena gigitan atau cakaran binatang buas ketika ia masih kecil.
Karena secara garis keturunan ia memiliki hubungan darah dengan khalifah Umar bin Al-Khattab, maka banyak sejarawan mengatakan bahwa Umar bin Abdul Aziz memiliki sifat dan watak yang sama, yaitu keberanian dan keadilan, kelemahlembutan , sifat kasih sayang, sabar, dan cinta ilmu pengetahuan.
Pada masa kecilnya, Umar bin Abdul Aziz tinggal mengetap di rumah paman-pamannya di Madinah dan memperoleh pendidikan yang baik dari mereka. Banyak ilmu pengetahuan keagamaan diperolehnya, antara lain ilmu hadits, Al-Qur'an dll.
Umar bin Abdul Aziz belajar hadits dari ayahnya, Abdul Aziz dan para sahabat lainnya, seperti Anas bin Malik, Abdullah bin Ja'far bin Abi Thalib, Ibnu Qarith, Yusuf bin Abdillah bin Salah, 'Amir bin Sa'ad, Sa'id bin Al-Musayyab, Urwah bin Al-Zubair, Abi Bakar bi Abdirrahman, Arrabi' bin Samurah, dll.
Selain ilmu hadits, Umar bin Abdul Aziz juga menguasai ilmu Al-Qur'an. Bahkan ia telah menghapal dan mengkaji Al-Qur'an sejak Umar bin Abdul Aziz masih kecil. Untuk memperdalam semua itu, Abdul Aziz mengirim anaknya ke Madinah, Tujuannya agar ia belajar dengan baik mengenai ilmu-ilmu agama Islam, termasuk Al-Qur'an. Di Madinah ia belajar Al-Qur'an dengan Ubaidillah bin Abdullah. Pendidikan ini dilaluinya hingga menjelang dewasa.
Setelah ayahnya meninggal dunia, Umar bin Abdul Aziz diminta oleh khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk datang ke Damaskus. Di kota inilah Umar bin Abdul Aziz menikah denfan Fatimah, anak khalifah Abdul Malik bin Marwan. Dari kota inilah ia meniti karir politiknya sebagai pejabat penting pemerintahan. Sebab ketika Al-Walid bin Abdul Malik menjadi khalifah, ia diberi kepercayaan untuk menjadi gubernur Hijaz, yakni Mekkah dan Madinah. Karirnya berjalan bagus tanpa cacat sedikitpun. Tetapi karena difitnah oleh Hajjaj bin Yusuf yang menuduhnya melindungi para pemberontak yang berasal dari Irak, Umar bin Abdul Aziz dipecat. Pemecatan ini tidak diambil pusing oleh Umar bin Abdul Aziz, karena memang ia sendiri tidak berambisi untuk menjadi penguasa.
Ketidakambisiannya menjadi penguasa ini dapat dilihat dari pembicaraan khalifah Sulaiman bin Abdul Malik denga Raja' bin Haiwah. Ketika khalifah Sulaiman sakit, ia meminta pendapat Raja' mengenai Umar bin Abdul Aziz. Siapakah yang patut ditunjuk untuk menjadi khalifah setelah khalifah Sulaiman. Khalifah Sulaiman memuji kebpribaian dan sifat-sifat yang dimiliki Umar bin Abdul Aziz. Raja' menganjurkan khalifah Sulaiman agar ia mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya kelak. Tetapi pembicaraan kedia orang itu didengar oleh Umar, sehingga setelah Raja' keluar, Umar meminta kepadanya untuk tidak menyebut namanya bila khalifah SUlaiman membicarakan penggantinya. Permintaan itu diabaikan oleh Raja', bahkan Raja' menipunya dengan mengatakan apakah mengira keluarga Sulaiman akan mengikutsertakan engkau dalam masalah khalifah ini. Raja' mengatakan sekali, tidak.
Mendengar jawaban ini Umar bin Abdul Aziz senang dan hatinya merasa tentram. Sebab ia tidak akan diajak untuk memikul beban berat umat dengan menjadi khalifah. Dengan strategi yang diatur oleh khalifah Sulaiman dengan Raja' bin Haiwah, dibuatlah surat wasiat siapa yang akan menjadi khalifah. Di dalam catatan itu disebutkan bahwa yang akan menggantikan kedudukan khalifah Sulaiman adalah Umar bin Abdul Aziz, dan meminta Yazid bin Abdul Malik untuk menggantikan kedudukan khalifah Umar bin Abdul Aziz kelak.
Setelah pembuatan surat itu, khalifah Sulaiman meninggal dunia dengan tenang, karena ia telah memberikan kekuasaan kepada orang yang paling tepat dan dapat dipercaya. Tetapi kematian khalifah Sulaiman dirahasiakan oleh Raja' bin Haiwah, karena takut ada kepanikan. Untuk menghilangkan kecemasan dan kepanikan itu, sekali lagi Raja' bin Haiwah mengumumkan pengangkatan Umar bin Abdul Aziz dan meminta masyarakat melakukan bai'at sebagai bukti kesetiaan mereka terhadap khalifah baru. Permintaan tersebut dipenuhi oleh masyarakat. Dengan demikian, Umar bin Abdul Aziz telah sah menjadi khalifah pengganti Sulaiman bin Abdul Aziz.
Setelah Umar bin Abdul Aziz tahu bahwa masyarakat telah menyatakan sumpah setia kepadanya, ia berucap inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Kemudian keluar dan mengucapkan kalimat pendek. Hadirin sekalian, aku telah dibebani tugas dan tanggung jawab yang sangat berat tanpa terlebih dahulu meminta pendapatku. Jabatan in ibuka pula atas permintaanku. Karena itu, aku membebaskan kalian dari bai'at yang kalian telah lakukan. Pilihlah orang yang kalian paling sukai untuk menjadi khalifah.
Akan tetapi baru saja ia turun dari mimbar. Tiba-tiba semua yang hadir disitu secara serempak berkata : Kami memilih anda. Kemudian mereka mendatangi Umar bin Abdul Aziz dan melakukan bai'at kembali. Umar bin Abdul Aziz dibai'at pada tahun 99 H/717 M.