Friday, 14 July 2017

Jasa - Jasa dan Peninggalan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

Jasa - Jasa dan Peninggalan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik
Selama masa pemeritahan khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724 - 743 M). banyak jasa dan peninggalan yang diwariskannya. Jasa-jasa dan peninggalannya tersebut tidak dapat dipisahkan dari berbagai usaha yang pernah dilakukannya.
Tetapi jasa dan peninggalannya yang paling penting selama masa pemerintahannya yag berlangsung selama kebih kurang 20 tahun adalah pembangunan sejumlah sumur dan bendungan. Sumur-sumur tersebut sangat berjasa bagi para pengembara dan mereka yang akan melakukan perjalanan menuju kota-kota besar di selatan, seperti Mekkah.
Selain itu, pembangunan perkebunan kapas dan pendirian pabrik tenun, merupakan peninggalan sejarah yang amat penting bagi peradaban Islam. Sebab saat itu, produksi kapas hanya terdapat di India dan di beberapa tempat yang bukan wilayah kekuasaannya. Sehingga, bangunannya tersebut merupakan jasa dan peninggalan yang sangat berharga.
Jasa lain yang tidak kalah pentingnya adalah pembangunan pabrik-pabrik senjata yang terdapat di wilayah Utara dan Afrika Utara. Pabrik senjata ini awalnya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan peralatan tempur pasukan umat Islam. Tetapi kemudian dijadikan sebagai model pembuatan persenjataan selanjutnya.

Usaha - Usaha Khalifah Hisyam bin Abdul Malik

Selama masa kepemimpinannya khalifah Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M) terdapat banyak usaha yang dilakukannya. Pada umumnya, usaha tersebut bertujuan untuk mempertahankan wilayah kekuasaan dinasti Bani Umaiyah dari perpecahan dan pertikaian. Di antara usaha yang dilakukannya selama menjabat sebagai khalifah, adalah:
1. Mengatasi konflik dan perselisihan
Sebelum dan sesudah pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz, para penguasa Bani Umaiyah selalu meningkatkan pajak kepada kelompok masyarakat non Arab untuk menutup kekurangan kas negara. Tetapi, kebijakan - kebijakan ini banyak mendapat pertentangan dari kelompok masyarakat yang merasa dirugikan. Mereka melakukan gerakan perlawanan untuk menentang kebijakan tersebut. Perlawanan - Perlawanan ini pada akhirnya berakibat pada melemahnya struktur kekuatan dan kekuasaan Bani Umaiyah.
Untuk mengatasi semua itu, seringkali ia mengangkat dan mengganti gubernur karena di beberapa daerah. Penggantian gubernur ini disebabkan karena ia berpandangan bahwa para gubernur tidak cakap dan tidak setia lagi kepada khalifah. Bahkan ia selalu curiga gubernur yang diangkatnya akan melakukan gerakan pemberontakan. Salah satu gubernur yang diangkatnya akan melakukan gerakan pemberontakan. Salah satu gubernur yang diangkat guna mengatasi berbagai konflik di daerah-daerah, ia mengangkat Khalid Al-Qasri.
Khalid Al-Qasri diminta untuk mengatasi konflik antara kaum Yamaniyah dengan kaum Mudhariyah. Sebagai gubernur, Khalid AL-Qasri yang berasal dari kaum Yamaniyah berusaha bersikap netral dan tidak memihak. Karenanya, selama ia menjabat gubernur di wilayah timur, hampir tidak ditemukan pertikaian antara dua kelompok masyarakat tersebut.
Sikapnya yang netral dan toleransinya yang cukup tinggi terhadap masyarakat Kristen dan Yahudi, dinilai kurang memuaskan bagi khalifah Hisyam bin Abdul Malik. Karena itu, sekitar tahun 737 M, Khalid dipecat. Padahal, Khalid adalah salah seorang gubernur yang cukup gigih mempertahankan wilayah kekuasaan dari sebagai serangan, terutama dari kelompok khawarij d Irak dan Afrika Utara.
Jabatan KHalid Al-Qasri kemudian diduduki oleh Yusuf. Gubernur baru ini membuat kebijakan yang amat berlawanan dengan kebijakan gubernur Khalid Al-Qasri sebelumnya. Karena itu, Yusuf tidak disukai oleh kelompok masyarakat Kristen dan Yahudi serta keluarga dan simpatisan Ali. Masyarakat di Kufah telah mengangkat dan mengakui Zaid bin Ali, cucui Husein bin Ali, sebagai khalifah. Pengangkatan ini menimbulkan ketegangan dan bahkan kemudan Yusuf memerangi mereka dan membunuh Zaid bin Ali. Persitiwa terbunuhnya Zaid bin Ali ini menimbulkan gejolak baru, sehingga suasana semakin tidak menentu.
Sementara itu, pemberontakan juga terjadi di Asia Tengah. Orang - orang Islam di Armenia diganggu oleh orang-orang Khazar dan Alan. Tentara muslim di bawah pimpinan Jarrah dihancurkan, bahkan Jarrah sendiri tewas terbunuh pada tahun 730. Untuk mengatasi hal itu, khalifah mengirim pasukan untuk membantu tentara Islam. Orang-orang Khazar dapat dikalahkan dan keamanan dapat dikendalikan lagi. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban di wilayah Asia Tengah, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik mengutus saudaranya bernama Muslamah. Tetapi Muslamah pun gugur ketika ia tengah berusaha mempertahankan wilayah kekuasaan Bani Umaiyah. dari serangan bangsa Turki. Sekali lagi khalifah mengirim utusannya di bawah pimpinan Marwan (Cucu Marwan bin Hakam) untuk mengatasi konflik di wilayah tersebut. Dengan kekuatan yang dimilikinya, akhirnya ia berhasil mengalahkan pasukan Khazar dan Turki.
2. Memperkuat persatuan dan kesatuan
Usaha lain yang dilakukan khalifah Hisyam bin Abdul Malik adalah memperkuat persatuan dan kesatuan. Tujuannya adalah agar negara menjadi aman dan tenteram, sehingga khalifah dapat menjalankan roda pemerintahan dengan aman dan damai.
3. Sikap toleransi yang tinggi terhadap masyarakat Kristen dan Yahudi.
Usaha lain yang dilakukan khalifah Hisyam bin Abdul Malik adalah menjaga sikap tolreansi beragama. Usaha itu diwujudkan dalam bentuk memperbolehkan masyarakat Kristen untuk membangun gereja dan Sinagog bagi masyarakat Yahudi.
4. Membangun bendungan dan sungai
Usaha lain yang dilakukan khalifah Hisyam bin Abdul Malik adalah membangun bendungan dan sungai serta membuat sumur-sumur di jalan yang menuju Mekkah. Tujuannya agar para petani dapat memanfaatkan air dari bendungan dan sungai yang dibangun. Sementara sumur-sumur dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang akan bepergian menuju kota Mekkah, baik untuk berhaji maupun lainnya.
5. Mendirikan benteng-benteng pertahanan
Karena masa pemerintahannya seringkali terjadi pemberontakan di berbagai wilayah kekuasaannya, maka khalifah Hisyam bin Abdul Malik membangun benteng-benteng pertahanan di wilayah-wilayah perbatasan, baik di Afrikan Utara, Asia Tengah maupun di daerah-daerah lain yang berbatasan dengan wilayah kekuasaan dinasti Bani Umaiyah.
6. Membuka sejumlah perkebunan
Salah satu usaha yang dapat menunjang perekonomian negara adalah pembukaan sejumlah perkebunan. Di antaranya adalah membangun perkebunan sutera dan kapas (bludru). Pabrik tenun yang didirikan berhasil meningkatkan pendapatan masyarakat dan negara. Dengan demikian, kekurangan negara pada Baitul Mal dapat diatasi sedikit demi sedikit.
7. Membangun pacuan kuda.
Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dikenal sebagai penunggang kuda yang hebat. Ia anyak memelihara kuda untuk perlombaam dan berperang. Untuk mengetahui kemampuan kuda-kuda yang dimilikinya dengan kuda-kuda lain, khalifah mengadakan perlombaan pacuan kuda. Dialah khalifah Bani Umaiyah pertama yang mengadakan perlombaan pacuan kuda.

Biografi Khalifah Hisyam bin Abdul Malik


Khalifah Hisyam bin Abdul Malik dilahirkan pada tahun 70 H. I termasuk salah satu khalifah yang cerdas, tegas dan pemurah. Khalifah Hisyam bin Abdul Malik juga memiliki selera seni sastra yang cukup tinggi. Terkadang ia terpesona dengan syair dan pujian.
Pernah suatu ketika ada seorang muslim berkulit hitam yang pandai datang menghadapnya di istana. Di hadapan khalifah, Nushaib bin Rabah menyanjungnya dengan syair pujian, "Ketika orang berpacu untuk mengejar puncak kemuliaan, maka tangan kananmu tiba lebih dahulu memberikan hadiah serta bingkisan, tangan kirimu segera menyusul, semua keinginan jadi terkabul." Syair pujian ini membuat sang khalifah terpseona dan langsung memberikan apa yang diinginkan Nushaib bin Rabah.
Selain itu, ia juga suka wewangian dan pakaian indah, hemat, tidak boros, dan tidak mudah ditipu. Khalifah Hisyam juga dikenal dengan penyantun dan bertaqa. Pernah suatu ketika anaknya tidak shalat jum'at. Lalu dia memanggil anaknya itu dan menanyakan alasan kenapa tidak shalat Jum'at. Anaknya menjawab: Untaku mati. Hisyam sangat marah dan berkata keras kepada anaknya. Apakah kamu tidak sanggup berjalan kaki. Sejak saat itu, ia menghukum anaknya untuk tidak mengendarai unta selama satu tahun. Pernah suatu ketika pada saat ia akan melaksanakan ibadah haji, khalifah Hisyam bin Abdul Malik membawa pakaiannya yang diangkut oleh 600 ekro unta.
Selain sifat dan karakter tersebut di atas, kahlifah Hisyam bin Abdul Malik juga memiliki sifat dan karakter lain. Ada sebagian sejarawan berpendapat bahwa khalifah Hisyam bin Abdul Malik salah seorang khalifah Bani Umaiyah yang pendendam, terutama pada lawan-lawan politiknya. Di antara contoh yang dikemukakan adalah khalifah Hisyam bin Abdul Malik selalu menaruh dendam dan curiga terhadap keluarga dan keturunan Ali bin Abi Thalib. Perasaan ini disebabkan karena keluarga dan keturunan Ali bin Abi Thalib selalu berusaha untuk menuntut atas jabatan khalifah yang direbut oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.
Hisyam bin Abdul Malik dilantik menjadi khalifah pada bulan Rajab tahun 105 H/724 M. Pelantikan itu dilakukan setelah kematian saudaranya yang bernama Yazid bin Abdul Malik. Jabatan ini dipegangnya hingga ia wafat di Al-Rashafah, Qainsirin pada bulan Rabiul Akhir tahun 125 H/743 M.

Friday, 19 May 2017

Jasa dan Peninggalan Khalifah Abdul Malik bin Marwan

Jasa dan Peninggalan Khalifah Abdul Malik bin Marwan
gambar ilustrasi

Selama masa pemerintahannya, khalifah Abdul Malik bin Marwan melakukan beberaoa upaya pembaharuan untuk memperlancar administrasi pemerintahan. Di antaranya :
1. Menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara
Kebijakan ini dikeluarkan karena bahasa yang dipakai untuk kegiatan adminstrasi pemerintahan di daerah taklukan pada masa-masa sebelumnya, buka bahasa Arab. Seperti diketahui bahwa pada masa nabi dan para sahabat dan masa-masa awal dinasti Ban Umaiyah, seluruh dokumen yang berkaitan dengan perikehidupan dicatat dalam bahasa Arab.
2. Penggantian mata uang
Abdul Malik bin Marwan mengeluarkan mata uang logam Arab. Sebelumnya, pada masa Nabi Muhammad SAW. dan khalifah Abu Bakar, mata uang yang dipakai sebagai alat tukar atau alat bayar mata uang Romawi dan Persia. Mata uang ini pada masa pemerintahan sesudahnya, khususnya pada masa khalifah Umar bin Khattab telah banyak yang rusak.
3. Pembaharuan ragam tulisan bahasa Arab
Kebijakan khalifah Abdul Malik bin Marwan lainnya adalah pembaharuan dalam raham tulisan bahasa Arab. Hal ini dilakukan karena berdasarkan penilaiannya terdapat dua kelemahan di dalam bahasa Arab. Pertama, bahasa Arab hanya mengandung huruf konsonan (huruf mati), yang dapat diucapkan dalam beberapa bunyi vokal. Kenyataan in menyulitkan bagi masyarakat muslim yang bukan berasal dari bangsa Arab di dalam memahami dan mengucapkan bahasa Arab.
Kelemahan kedua adalah bahwa beberapa huruf Arab mempunyai kesamaan bentuk, seperti huruf dal dan dzal, shad dan dhad, sin dan syin, dll. Hajjaj bin Yusuf salah seorang gubernur Abdul Malik bin Marwan yang dalam seni menulis bahasa Arab, memperkenalkan tanda vokal dan menerapkan tanda-tanda titik untuk membedakan beberapa huruf yang sama bentuknya.

4. Pembaharuan dalam bidang perpajakan
Hingga pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, umat Islam hanya berkewajiban membayar zakat dan bebas dari pajak lainnya. Hal ini mendorong orang non-muslim memeluk agama Islam. dengan cara ini, mereka terbebas dari pembayaran pajak. Setelah itu, mereka meninggalkan tanah pertaniannya guna mencari nafkah di kota-kota besar sebagai tentara.
Kenyataan ini menimbulkan masalah bagi perekonomian negara. Karena pada satu siis, perpindahan agama mengakibatkan berkurangnya sumber pendapatan negara dari sektor pajak. Pada sisi lain, bertambahnua militer Islam dari kelompok Mawali memerlukan dana subsidi yang semakin besar.
Untuk mengatasi permasalahan ini, khalifah Abdul Malik bin Marwan mengembalikan beberapa militer Islam kepada profesinya semula, yakni sebagai petani, menetapkan kepadanya untuk membayar pajak sebagaimana kewajiban mereka sebelum mereka masuk Islam, yakni sebesar beban kharraj dan Jizyah.
Keputusan khalifah Abdul Malik bin Marwan ini tentu saja ditentang keras oleh kelompok Mawali. Karena ketidakpuasan ini, pada akhirnya mereka menyokong gerakan propaganda Abbasiyah untuk menggulingkan kekuasaan dinasti bani Umaiyah.
5. Pengembangan sistem pos
Ketika Abdul Malik bin Marwa berkuasa, ia berusaha mengembangkan sistem pos yang telah dibangun pada masa Muawiyah bin Abu Sufyan. Sistem pos ini menghubungkan kota propinsi dengan pemerintahan pusat. Para petugas pos mengendarai kuda dalam menjalankan tugasnya, khususnya tugas menyampaikan informasi penting dari pemerintahan pusat ke pemerintah propinsi.
6. Membentuk Mahkamah Agung
Kebijakan lain yang menjadi jasa penting dari peninggalan pemerintahan khalifah Abdul Malik adalah mendirikan lemaga Mahkamah Agung. Lembaga ini didirikikan untuk mengadili para pejabat tinggi negara yang melakukan penyelewengan atau tindakan yang merugikan bangsa dan negara atas tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat.
7. Mendirikan bangunan - bangunan penting
Keberhasilan lain yang menjadi jasa dari peninggalan khalifah Abdul Malik bin Marwan adalah mendirikan bangunan - bangunan penting yang sangat dibutuhkan di dalam memperlancar roda pemerintahan dan kekuatan militer Bani Umaiyah.

Usaha usaha Khalifah Abdul Malik Bin Marwan

Usaha usaha Khalifah Abdul Malik Bin Marwan
gambar ilustrasi

Sepeninggal Khalifah Marwan bin Hakam akibat terbunuh pada tahun 66 H / 685 M, Abdul Malik bin Marwan naik tahta menggantikan kedudukan Ayahnya sebagai khalifah. Pada masa awal pemerintahannya, Abdul Malik mengalami banyak hambatan dalam menjalankan pemerintahan. Karena ketika itu bangsa Arab terpecah menjadi beberapa kelompok dengan fanatisme kesukuan masing-masing. Mereka yang tidak puas atas kebijakan Marwan bin Hakam, melakukan berbagai gerakan pemberontakan, sehingga wilayah kekuasaan Islam dinasti Bani Umaiyah Berada di ujung kehancuran.
Diantara pemberontakan yang terjadi adalah gerakan pemberontakan di Irak yang dilakukan oleh Al-Mukhtar bin Ubayd. Al-Mukhtar menyatakan bahwa pemberontakan itu bertujuan untuk menggoyahkan kekuasaan dinasti bani Umaiyah. Selain itu, gerakannya juga bertujuan untuk menuntut balas atas kematian Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang tewas terbunuh pada masa pemerintahan khalifah Yazid bin Muawiyah.
Al-Mukhtar berhasil mempengaruhi masyarakat Irak yang setia kepada Ali dan anak cucunya. Mereka bersatu untuk melakukan gerakan perlawanan kepada pemerintahan dinasti Bani Umaiyah di bawah pimpinan Abdul Malik bin Marwan. Untuk membangkitkan semangat jihad, meraka melakukan ziarah ke Karbala guna memancing amarah masyarakat tersebut.
Usaha Al-Mukhtar ini ternyata berhasil mempengaruhi masyarakat Kufah, Irakm Syiriah hingga masyarakat Arab lainnya. Di bawah pimpinan Al-Asytar, mereka melakukan penyerangan ke pasukan gubernur Irak, Ubaidillah di suatu tempat bernama Zab. Serangan ini menghasilkan kemenangan di pihak Al-Mukhtar. Kemenangan ini membuat Al-Mukhtar menjadi penguasa di tempat Mesopomatia.
Sementara itu, gerakan Ibnu Zubair yang mengangkat dirinya sebagai khalifah di Mekkah, menolak untuk bergabung dengan Al-Mukhtar. Akibatnya, kedua tokoh ini berseteru dalam sebuah pertempuran di Irak. Dalam pertempuran inim Ibnu Zubair dan komandan pasukannya bernama Mu'ab, berhasil mengalakan pasukan AL-Mukhtar. Dengan demikian, penguasa wilayah Mesopomatia dan sekitarnya kini beralih ke tangan Ibnu Zubair.
Selain kedua pemberotakan tersebut, terapat satu lagi gerakan pemberontakan yang timbul ketika itu, yaitu gerakan kelompok khawarij.Namun gerakan ini dapat dihancurkan oleh Al-Muhallab, komandan pasukan Ibnu Zubair, Gerakan khawarij ini berhasil dikalahkan setelah dikepung lebih kurang selama delapan bulan di Khurasan.
Pada masa awal pemerintahannya, Abdul Malik bin Marwan tidak terlibt langsung di dalam pertempuran musuh-musuh yang saling berebut pengaruh. Ia hanya menjadi penonton saja dan menunggu kelemahan mereka masing - masing, baru kemudian mereka di serang.