Wednesday, 3 July 2013

Usaha Muawiyah bin Abi Sufyan dalam memperoleh kekuasaan

Wafatnya khalifah Ali bin Abi Thalib karena di bunuh oleh Ibnu Muljam pada 661 M, menimbulkan dampak politis yang cukup berat bagi kekuatan umat Islam khusunya para pengikut ­­setia Ali. Oleh karena itu, tidak lama berselang, umat Islam dan para pengikut Ali bin Abi Thalib melakukan sumpah setia (bai’at) atas diri Hasan bin Ali untuk diangkat menjadi khalifah, pengganti Ali bin Abi Thalib.
Proses pengangkatan itu dilakukakan di hadapan banyak orang. Pada umumnya adalah para pendukung ayahnya, Ali bin Abi Thalib. Mereka yang melakukan sumpah setia (bai’at) sekitar 40.000 orang, jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran saat itu. Orang yang pertama melakukan bai’at adalah Qays bin Sa’ad, yang kemudian diikuti oleh umat Islam pendukung setia Ali bin Abi Thalib lainnya.
Pengangkatan ini bukan merupakan hasil rekayasa para pendukung Ali sebelumnya, tetapi karena tidak punya pilihan lain yang dapat menjadi tokoh panutan dan pemimpin mereka, kecuali Hasan bin Ali. Mereka menyadari bahwa Hasan bin Ali tidak setegas dan setegar ayahnya dalam hal kepemimpinan, tetapi karena saat itu  mereka membutuhkan seorang figur yang dapat diandalkan kharismatiknya, maka mereka secara bersama-sama membai’at hasan bin Ali sebagai khalifah, menggantikan kedudukan ayahnya.
Akan tetapi, pengangkatan itu tetap tidak mendapat pengakuan Muawiyah dan para pendukungnya. Karena sebenarnya Muawiyah juga sejak lama mempunyai ambisi untuk menduduki jabatan tertinggi dalam dunia Islam. Tetapi, ia selalu mendapat rintangan dari para pendukung setia Ali bin Abi Thalib. Dengan demikian, semakin panjang daftar “musuh” Muawiyah dan semakin sulit” untuk mencapai puncak kekuasaan, kecuali dengan cara-cara yang tidak demokratis, seperti kudeta dan lainnya.
Perdebatan apapun yang terjadi saat itu, yang jelas bahwa realitas politik menunjukkan bahwa sepeninggal Ali bin Abi Thalib, sebagian penduduk Kufah, Basrah dan Madinah melakukan sumpah setia (bai’at) kepada Hasan untuk memegang jabatan khalifah, menggantikan kedudukan ayahnya yang tewas terbunuh di tangan Abdurrahman bin Muljanm, yang berasal dari kelompok orang-orang yang tidak suka atas kebijakan Ali bin AbiThalib yang melakukan Tahkim. Tapi sayang, ternyata sepeninggal Ali, Hasan yang diangkat menjadi khalifah, bukan kelompok mereka.
Di sinilah problem puncak banyaknya persoalan politik Islam setelah kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Karena ternyata, umat Islam, khususnya pendukung Ali telah memiliki calon kuat untuk menduduki jabatan khalifah. Sementara kelompok Muawiyah menginginkan Muawiyah yang menjadi khalifah, bukan orang lain.
Namun, kenyataan terpilihnya Hasan sebagai khalifah tidak disenangi Muawiyah bin Abi Sufyan, sehingga Muawiyah bin Abi Sufyan menyusun kekuatan untuk merebut kekuasaan dari tangan Hasan bin Ali. Taktik dan strategi yang dimainka Muawiyah merupakan suatu upaya politik untuk mencapai puncak kekuasaan menjadi khalifah. Untuk kepentingan itu, Muawiyah dan para sekutunya menyusun kekuatan membendung arus massa pendukung Hasan bin Ali, terutama masyarakat Kufah dan Basrah yangmasih setia kepada Ali bin Abi Thalib. Hal itu bisa saja dilakukan, mengingat Muawiyah telah memilki posisi dan kekuatan yang cukup besar selama menjabat sebagai Gubernur di Syiria yang dapat dipergunakan untuk merebut kekuasaan khalifah dari tangan Hasan.mendengar berita itu, Qays bin Sa’ad bin Ubadah dan Abdullah bin Abbas menyarankan agar Hasan melakukan serangan ke Damaskus, sebelum diserang pasukan Muawiyah. Usulan tersebut diterima Hsan bin Ali dengan mengirim pasukan sebanyak 12.000 orang di bawah pimpinan kedua tokoh tersebut di atas. Pasukan ini berangkat ke Damaskus untuk melakukan serangan terhadap pasukan Muawiyah.
Namun ternyata, kedatangan mereka telah dinanti-nantikan oleh pasukan Muawiyah, sehingga kedua pasukan bertemu di suatu tempat bernama Madain. Di tengah sengitnya pertempuran, lagi-lagi Muawiyah mencoba mengecoh lawan dengan menyebarkan isu kematian Qays, sebagai bagian dari strategi perang urat syaraf (psy war) melalui opini publik yang dilakukan pihak Muawiyah. Perang opini ini sangat efektif untuk menjatuhkan semangat perang lawan Muawiyah, sehingga Hasan bin Ali tanpa melakukan penyelidikan  secara seksama, telah mengambil langkah untuk menghentikan gerakan pasukannya dan ingin menyelesaikan persoalan tersebut dengan cara-cara damai.
Di satu sisi, yakni pihak Muawiyah, penyebaran isu tersebut sangat efektif untuk melemahkan kekuatan lawan dan membangkitkan semangat juang pasukan Muawiyah dalam memenangkan pertempuran. Di pihak Hasan, isu itu memiliki dampak psikologis yang sangat efektif, karena dapat mempengaruhi semangat juang pasukannya yang pada akhirnya mereka enggan untuk melanjutkan pertempuran melawan pasukan Muawiyah.
Dengan demikian, strategi kelompok Muawiyah yang melakukan perang urat syaraf (psy war) telah berhasil mengecohkan kekuata lawan, sehingga ia berhasil mempengaruhi massa pendukung hasan bin Ali untuk tidak lagi melanjutkan pertempuran.
Akibatnya, pasukan Hasan yang semula sangat mendukung gerakan Hasan melawan Muawiyah malah berbalik tidak menyukai hasan. Bahkan menurut sejarawan muslim, seperti Al-Thabary mengatakan bahwa para pendukung Hasan melakukan tindakan kekerasan dengan menyerbu masuk ke rumah Hasan dan merusak kehormatan dan merampas harta bendanya, sehingga mereka berani merampas permadani yang sedang diduduki Hasan bin Ali. Sehingga Al-Thabary memandang bahwa perbuatan mereka sangat biadab, karena mengkhianati pemimpinnya sendiri.
Dalam mengatasi gejolak dan krisis politik seperti itu, tampaknya Hasan bin Ali tidak punya pilihan lain kecuali melakukan negosiasi dengan Muawiyah untuk mengakhiri perseteruan antara mereka. Untuk kepentingan itu, Hasan mengirim surat kepada muawiyah melalui ‘Amr bin Salmah Al-Arhaby yang berisi perdamaian. Hasan bersedia menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah dengan beberapa persyaratan antara lain; menyerahkan harta Baitul mal kepadanya untuk melunasi hutang-hutangnya sebagai bentuk perjanjian Muawiyah. Tidak lagi mencaci maki bapaknya serta keluarganya. Muawiyah menyerahkan pajak bumi dari Persia dan daerah Dar Ibjirad kepada Hasan setiap tahun.
Selain itu, setelah Muawiyah berkuasa nanti, masalah kepemimpinan harus diserahkan kepada umat Islam untuk memilihnya. Hasan juga menuntut agar Muawiyah tidak menarik sesuatu dari penduduk Madinah, Hijaz dan Irak, karena hal itu telah menjadi kebijakan ayahnya, Ali bin Abi Thalib, sejak ia masih berkuasa. Semua permintaan tersebut disanggupi oleh Muawiyah bin Abi Sufyan.
Untuk memenuhi semua persyaratan itu, Hasan bin Ali mengutus seorang sahabatnya bernama Abdullah bin Al-Harits bin Nauval menghadap Muawiyah. Sementara Muawiyah menghadapi orang-orang kepercayaannya, seperti Abdullah bin ‘Amr bin Kurayz dan Abdurrahman bin Samurah bin Habib bin Abdi Syams untuk menyampaikan pesan kepada Hasan. Utusan Muawiyah tiba di Madain dan memberikan semua permintaan Hasan.
Untuk itu, Hasan kemudian mengirim surat kepada Muawiyah agar mereka bertemu di suatu tempat, yaitu Maskin. Keduanya bertemu di tempat yang telah disepakati. Di sinilah Hasan bin Ali menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah dengan menyatakan sumpah setia kepada Muawiyah.
Usai pembaiatan, Hasan bin Ali dan Muawiyah bin Abi Sufyan oergi menuju kota Kufah. Di kota inilah kemudian Hasan meminta para pengikutnya untuk melakukan sumpah setia seperti yang telah dilakukannya. Permintaan tersebut dipenuhi dan bai’at dilakukan untuk mendukung kepemimpinan Muawiyah.
Keberhasilan Muawiyah memperoleh pengakuan di Kufah merupakan bukti kepiawian Mawiyah dalam memainkan peran politiknya sebagai seorang yang sangat ahli dalam bidang ini. Dengan demikian, ia telah menggapai cita-cita untuk menjadi seorang pemimpin umat Islam menggantikan posisi Hasan bin Ali sebagai khalifah. Setelah berhasil memperoleh pengakuan dari Hasan bin Ali dan para pendukungnya di kota Kufah dengan kompensasi besar berupa uang sejumlah satu juta dirham yang diberikan kepada Hasan bin Ali, Muawiyah kemudian pergi ke kota Basrah meminta agar penduduk kota tersebut melakukan hal yang sama seperti saudara-saudara mereka di Kufah. Harapan Muawiyah agar penduduk Basrah mau melakukan Bai’at kepada Muawiyah gagal, karena mereka menolak untuk melakukannya,
Penolakan mereka di dasari atas kenyataan bahwa harta yang tersimpan di baitul mal merupakan harta umat Islam yang diperolehnya dari hasil peperangan (fa’i) dan tidak akan diberikan kepada siapa pun, termasuik kepada Hasan bin Ali. Dengan demikian, mereka tidak mau melakukan perintah Hasan untuk membai’at Muawiyah sebagai pemimpin mereka.
Meskipun tidak mendapat pengakuan secara resmi dari masyarakat Basrah, Muawiyah tetap melakukan propaganda  kepada masyarakat di seluruh wilayah kekuasaan Islam agar mereka mau mengakui dan tunduk kepad khalifah yang baru. Karena pemimpin mereka yang lama, yakni Hasan bin Ali telah menyerahkan kekuasaan kepadanya dan meminta semua pendukung Hasan mematuhi segala perintah dan  tunduk atas segala kebijakan yang dibuat Muawiyah bin Abi Sufyan.
Dengan pengakuan ini, tentu saja jabatan tertinggi umat Islam secara de jure dan de facto berada di tangan Muwiyah bin Abi Sufyan. Suatu jabatan penting yang telah lama dinantikan bani Umayah. Dalam hal ini terlepas dari apakah perolehan kekuasaan itu dilakukan secara terpaksa atau tidak, yang jelas pada akhirnya Muwiyah doterima sebagai khalifah umat Islam. Dengan demikian, berdirilah dinasti yang baru, yaitu Dniasti Bani Umayah (661-750 M) yang mengubah gaya kepemimpinannya dengan meniru gaya kepemimpinan raja-raja Persia dan Romawi berupa peralihan kekuasaan kepada aak-anaknya secara turun-temurun. Hal ini juga menandai berakhirnya sistem pemerintahan khalifah yang didasari atas asas “demokrasi”  untuk menentukan pemimpin umat Islam yang mnejadi pilihan mereka.

No comments:

Post a Comment