Wednesday, 3 July 2013

Biografi Muawiyah bin Abi Sufyan



Nama lengkap Muawiyah bin Abi Sufyan adalah Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayah bin Harb bin Abdi Syams bin Abd Manaf al-Quraisy al-Amawi. Ibunya bernama Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abd Syams bin Abd Manaf. Dari silsilah ini secara geneologis terjadi pertemuan antara nenek moyang bapaknya dengan nenek moyang ibunya, yaitu pada Abd Syams. Muawiyah yang dijuluki Abu Abd Al-Rahman, dilahirkan kira-kira pada tahun ke-5 sebelum kenabian (606 M). Muawiyah dan bapaknya masuk Islam pada perisrtiwa penaklukan kota Mekkah, ketika ia berusia lebih kurang 23 tahun. Menurut pengakuan Muawiyah sendiri bahwa ia telah menjadi muslim jauh sebelum fath  al-Mekkah, yaitu pada Yaum Al-Qadla ketika Rasulullah saw. Dan para sahabat melaksanakan Umrah setelah perjanjian Hudaibiyah. Ketika itu datang menghadap Rasul dan menyatakan diri sebagai muslim, tetapi keislaman itu ia sembunyikan. Hal itu dilakukan karena ia mendapat ancaman dari keluarganya, terutama ibunya bahwa kalau ia masuk Islam, pasokan makanan, warisan dan sebagainya akan dihentikan oleh keluarganya.
Setelah keislamannnya, ia mendapat kepercayaan dari Rasulullah saw. Untuk menjadi penulis wahyu. Jabatan ini diberikan kepadanya, selain sebagai bagian dari bentuk penghargaan atas keluarga Bani Umayah, juga karena Rasulullah saw. Melihat potensi dan kemampuan menulis dan membaca yang dimilikinya yang perlu dihargai dan dikembangkan untuk kepentingan pengembangan Islam. Karena pada saat itu, sedikit sekali orang Arab yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Dari sinilah kemudian posisi Muawiyah menjadi semakin penting di dalam kehidupan sosial keagamaan dan politik ketika itu.
Sejak saat itulah tampaknya Muawiyah meniti kariernya, sehingga memiliki karier politik yang cukup baik di dalam pemerintahan pada masa khulafaur rasyidin, terutama sejak masa khalifah Umar bin Al-Khattab (13-24 H/634-644 M).
Pada masa pemerintahan khalifah Abu Bakar (11-13 H/632-634 M). Saudara Muawiyah bernama Yazid bin Abi Sufyan, mendapat kepercayaan untuk menaklukkan daerah Syams. Dalam situasi yang kritis, Yazid meminta bantuan kepada khalifah untuk menambah kekuatan perang. Permintaan tersebut dipenuhi. Kemudian khalifah Abu Bakar as-Shiddiq meminta kepada Muawiyah untuk memimpin pasukan tambahan tersebut. Di bawah bendera Yazid, Muawiyah bertempur menaklukkan kota-kota di utara, seperti Sidon, Beirut, dan lain sebagainya.

Nama-Nama Khalifah Dinasty Bani Umayah

1. Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H/661-680 M)
2. Yazid bin Muawiyah (60-64 H/680-683 M)
3. Muawiyah bin Yazid (64-64 H/683-683 M)
4. Marwan bin Hakam (64-65 H/683-685 M)
5. Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M)
6. Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)
7. Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/715-717 M)
8. Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)
9. Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724 M)
10. Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M)
11. Walid bin Yazid (125-126 H/ 743-744 M)
12. Yazid bin Walid (126-127 H/744-744 M)
13. Ibrahim bin Walid (127-127 H/744-745 M)
14. Marwan bin Muhammad (127-132 H/744-750 M)

Gaya dan Corak Kepemimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan



Berdirinya pemerintahan Bani Umayah (41 H/661 M) tidak semata-mata hanya merupakan kekuasaan dari Hasan bin Ali (41 H/661 M), tetapi peristiwa tersebut juga mengandung makna banyak implikasi (pengaruh) di antaranya adalah perubahan beberapa prinsip dan berkembangnya corak baru yang sangat mempengaruhi kekuasaan dan perkembangan umat Islam. Sebab selama masa pemerintahan Khulafaur rasyidin, khalifah di pilih oleh para pemuka dan tokoh sahabat di Madinah. Kemudian pemilihan dilanjutkan dengan bai’at oleh seluruh pemuka Arab. Hal seperti ini tidak pernah terjadivpada masa pemerintahan dinasti Bani Umayah.
Semenjak Muawiyah bin Abi Sufyan berkuasa (661-680 M), para penguasa Bani Umayah menunjuk penggantinya yang akan menggantikan kedudukannya kelak. Hal ini terjadi karena Muawiyah sendiri yang memelopori proses dan sistem kerajaan dengan menunjuk Yazid, sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukannya kelak. Pertunjukan ini dilakukan Muawiyah atas saran Al-Mughirah bin Syu’bah, agar terhindar dari pergolakan dan konflik politik intern umat Islam, seperti yang pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Sistem pemerintahan yang diterapkan Muawiyah meniru sistem pemerintahan kerajaan Romawi dan Persia, yang mewariskan kekuasaan secara turun temurun.
Sejak saat itu, sistem pemerintahan dinasti Bani Umayah meninggalkan tradisi musyawarah untuk memilih pemimpin umat Islam.untuk mendapatkan pengesahan, para penguasa Bani Umayah kemudian memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan sumpah setia (bai’at) di hadapan sang khalifah. Padahal, sistem pengangkatan para penguasa seperti ini bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi dan ajaran permusyawaratan Islam yang dilakukan para Khulafaur rasyidin.
Selama masa pemerintahan demokratis Khulafaur rasyidin, para khalifah selalu didampingi oleh dewan penasihat yang terdiri dari para pemuka Islam. Seluruh kebijakan yang penting selalu dimusyawarahkan secara terbuka. Bahkan rakyat biasa mempunyai hak untuk menyampaikan pertimbangan dalam pemerintahan. Kebebasan berpendapat dan kebebasan menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan corak yang sangat menonjol dalm pola pemerintahan Khulafaur rasyidin.
Tradisi musyawarah dan kebebasan menyampaikan pendapat ini tidak berlaku dalam pemerintahan Bani Umayah. Dewan permusyawarahan dan dewan penasihat tidak berfungsi secara baik. Kebebasan melakukan kritik terhadap kebijakan pemerintah tidak diperbolehkan. Hal itu karena para penguasa bani Umayah benar-benar telah menganggap dirinya sebagai raja yang tidak di pilih dan diangkat oleh rakyat, sehingga semua kebijakan tidak pernah melibatkan rakyat dan rakyat tidak dibolehkan melakukan kritik.
Ajaran dan usaha Nabi Muhammad saw. Yang telah menghapuskan fanatisme kesukuan yang tidak dapat dioertahankan pada masa Bani Umayah. Mereka memperjuangkan kepentingan kelompok tertentu dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kelompok tersebut dan menutup kesempatan kelompok lain.
Kexdemburuan dan permusuhan antara keluarga Mughariyah dengan Himyariyah yang telah padam selama masa-masa sebelumnya, muncul kembali. Persaingan mereka tentu saja melemahkan persatuan dan kesatuan umat Islam yang pada akhirnya juga melemahkan kekuatan sendi-sendi kekuasaan Bani Umayah.
Pada masa pemerintahan Khulafaur rasyidin sangat serius dan peduli terhadap tanggung jawab dan tugas mereka. Mereka sering keluar malam untuk melihat keadaan masyarakat yang sebenarnya. Mereka menjalani hidup dan tugas-tugas sesuai dengan prinsip ajaran islam. Mereka tidak membangun gedung atau istana megah. Tidak ada pengawalan khusu bagi para khalifah. Sementara para penguasa bani Umayah hidup dalam kemegahan dan dijaga ketat oleh pengawal, karena mereka khawatir keamanan diri mereka.
Selain terjadi perubahan dalam sisrem pemerintahan, pada masa pemerintahan Bani Umayah juga terdapat perubahan lain misalnya adalah Baitul Mal. Pada masa pemerintahan khulafaur rasyidin, Baitul mal berfungsi senagai harta kekayaan rakyat, dimana setiap warga negara memiliki hak yang sama terhadap harta tersebut. Akan tetapi sejak pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, Baitul mal beralih kedudukannya menjadi harta kekayaan keluarga raja. Seluruh penguasa dinasti bani Umayah kecuali Umar bin Abd Aziz (717-729 M), memperlakukan Baitul mal sebagai harta kekayaan pribadi yang boleh dipergunakan untuk apa saja oleh sang penguasa Bani Umayah.
Demikian latar belakang dan proses perbentukan dinasti Bani Umayah (661-750) dengan sistem dan corak pemerintahan yang berbeda dengan sistem pemerintahan khulafaur Rasyidin. Meskipun begitu, banyak hal yang dapat di ambil bahwa untuk mendapatkan sesuatu dan menggapai cita-cita, harus dilakukan dengan tekun dan sabar, agar semuanya dapat dioeroleh dengan baik.
Hal itu dapat ditelusuri dari usaha Muawiyah bin Abi Sufyan di dalam usahanya memperoleh kekuasaan dari Hasan bin Ali yang kemudian ia mendirikan dinasti Bani Umayah. Namun, kita tidak perlu meniru jejak dan sifat kelicikan yang ada pada dirinya. Hal baik yang dapat kita lakukan memanfaatkan dari mempelajari sejarah perjalanan karier Muawiyah, adalah keteguhan hati, kesabaran, keahliannya yang dapat merangkul musuh-musuh politiknya untuk diajak bekerja sama, patut menjadi panutan kita. Bukan malah dijauhi dan dihancurkan.
Selain itu, usaha para penguasa bani Umayah yang terdiri dari 14 orang selama hampir satu abad (661-750 M), telah membawa Islam pada kemajuan-kemajuan, sehingga Islam dikenal tidak hana di dunia Arab, juga di Indus India dan Andalusia di Eropa.